by

BPTP Kalbar Gelar Bimtek Tumpangsari dan Vlog di Sanggau

SANGGAU – REPORTASE.ID, Badan Penelitian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Barat menggelar Bimtek Tumpangsari dan Video pendek di Kabupaten Sanggau. Pelatihan tersebut dilaksanakan di Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kecamatan Kapuas,  Selasa (23/10).

Kegiatan sehari tersebut diikuti oleh Peyuluh pertanian se Kecamatan Kapuas, Mukok, Meliau dan Jangkang dan dibuka langsung oleh Kepala Dinas Ketahanan, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perikanan (DKPTPHP) Kabupaten Sanggau Ir. H. Jhon Hendri, MSi.

Kepala DKPTPHP mengungkapkan, Tumpangsari yang ada di Kalimantan Barat ini diawali dari Kabupaten Sanggau yaitu di Desa Kenaman, Kecamatan Sekayam. Sementara, Polatumpangsari yang dilaksanakan ada 3 pola yaitu padigogo – jagung, padigogo – kedelai dan jagung – kedelai.

“Kegiatan tumpangsari yang dilaksanakan di Desa kenaman terus kita pantau dan beberapa kali melihat ke lapangan ternyata pertumbuhannya cukup baik terutama padigogo – kedelai karena tidak saling menutup. Sedangkan untuk jagung – padigogo dan jagung – kedelai, mungkin sebaiknya tanam kedelai dan jagung terlebih dahulu baru ditanami jagung,” terangnya.

Ir Djianto MM, penanggungjawab temu teknis dalam kesempatan itu mengharapkan agar kegiatan ini dapat memberikan manfaat kepada para penyuluh yang melaksanakan tugas di lapangan.

“Kegiatan ini tak lain untuk membekali penyuluh di lapangan sehingga tidak ada kendala dalam pelaksanaan kegiatan tumpangsari maupun membuat Vlideo pendek untuk meningkatkan angka kredit penyuluh PNS,” tuturnya.

Peneliti BPTP Kalbar, Sution, SP, MP saat menjadi pemateri kegiatan memaparkan, tumpangsari merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produksi tanaman, karena pada areal lahan yang sama di produksi lebih dari satu komoditas tanaman. Dengan demikian, menurutnya, lahan dapat dimanfaatkan secara optimal.

Pada tahun 2018, dijelaskannya secara detail, di Kalimantan Barat terdapat alokasi kegiatan Tumpangsari tanaman seluas 4.630 ha. Dalam pelaksanaan kegiatan tumpangsari ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu pengaturan populasi tanaman dimana tanaman padigogo sebanyak 250.000 rumpun/ha, jagung 110.000 tanaman/ha dan kedelai 300.000 tanaman/ha. Pengaturan waktu tanam merupakan kunci keberhasilan dimana tumpangsari dengan jagung penaman kedelai dan padigogo sebaiknya ditanam 3 minggu lebih duluan kemudian baru jagung.

“Selain itu juga karena populasi tanaman sangat rapat maka arah tanam sebaiknya searah dengan matahari yaitu timur-barat agar intensitas radiasi matahari banyak yang masuk pada tanaman,” paparnya.

Berdasarkan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) kegiatan Tumpangsari di Kabupaten Sanggau seluas 200 ha. Dalam diskusi disampaikan bahwa dengan tumpangsari dengan jenistanaman yang berbeda dapat mengurangi serangan Organisme Penggangu Tanaman. Pengembangan tumpangsari tanaman di Kabupaten Sanggau di diarahkan pada lahan kering, karena saat ini lahan kering masih belum dimanfaatkan secara maksimal daripada musim hujan.

Dalam kesempatan itu pula, pemateri lain dari BPTP Kalbar, Ir Sigit Sapto Wibowo, MSc menekankan agar para penyuluh dapat lebih banyak menggunakan teknologi. Salah satunya yakni dapat membuat video pendek (Vlog) untuk menunjang penyuluhan pertanian.

“Saat ini sudah banyak petani menggunakan hape berbasis aplikasi android. Maka penyuluh juga jangan tertinggal dan bisa kita gunakan untuk sebagai alat untuk menyuluh dengan membuat video pendek. Selain berguna untuk membantu menyampaikan materi, juga akan terlihat menarik sehingga sasaran dalam hal ini petani dapat cepat menerapkan apa yang kita sampaikan dan juga dapat menambah nilai tambah bagi penyuluh itu sendiri terutama dalam kredit poin sebagai PNS,” tegasnya. (sti/dn)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed